REAKTUALISASI EMPATI MELALUI TAFSIR NUSANTARA:MENYEMBUHKAN LUKA HUMANISME DI TANAHINTELEKTUAL INDONESIA

Penulis

  • Ahmad Qoys Jamalallail, Shinta Nuriyah Mahbubiyah Royani, Silsilu Durrotil Bahiyah Penulis

Kata Kunci:

Desensitisasi empati, tafsir Nusantara, bullying, kemanusiaan, ruang akademik

Abstrak

Tulisan ini membahas fenomena desensitisasi empati sebagai bentuk krisis humanisme yang muncul di era digital, khususnya di ruang akademik yang seharusnya menjadi pusat pembentukan nilai  kemanusiaan.  Permasalahan  ini  tampak  pada  meningkatnya  kasus  bullying,  ujaran kebencian, dan hilangnya sensitivitas sosial baik di sekolah, kampus, maupun pesantren. Untuk mengkaji persoalan  tersebut, penelitian  ini  menggunakan metode  kualitatif content analysis dengan pendekatan kepustakaan melalui penelusuran literatur, berita daring, dan karya-karya tafsir Nusantara seperti Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Al-Azhar, dan Marah Labid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dehumanisasi di ruang intelektual dipicu oleh budaya kompetitif, anonimitas digital, dan lemahnya internalisasi etika sosial, sehingga melahirkan individu yang unggul secara kognitif tetapi miskin empati. Melalui pembacaan terhadap tafsir Nusantara, ditemukan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an yang berakar pada tradisi budaya lokal menawarkan model rekonstruksi kepedulian dan empati sebagai basis relasi sosial. Kajian ini memberikan manfaat teoretis dan praktis berupa penguatan paradigma pendidikan yang memadukan kecerdasan intelektual dan spiritualitas kemanusiaan, serta rekomendasi revitalisasi nilai empati dalam kurikulum dan kultur akademik.  Dengan demikian, tafsir Nusantara dapat menjadi epistemologi penyembuh luka humanisme di tengah tantangan dehumanisasi digital masa kini.

Unduhan

Data unduhan tidak tersedia.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-22