REAKTUALISASI EMPATI MELALUI TAFSIR NUSANTARA:MENYEMBUHKAN LUKA HUMANISME DI TANAHINTELEKTUAL INDONESIA
Kata Kunci:
Desensitisasi empati, tafsir Nusantara, bullying, kemanusiaan, ruang akademikAbstrak
Tulisan ini membahas fenomena desensitisasi empati sebagai bentuk krisis humanisme yang muncul di era digital, khususnya di ruang akademik yang seharusnya menjadi pusat pembentukan nilai kemanusiaan. Permasalahan ini tampak pada meningkatnya kasus bullying, ujaran kebencian, dan hilangnya sensitivitas sosial baik di sekolah, kampus, maupun pesantren. Untuk mengkaji persoalan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif content analysis dengan pendekatan kepustakaan melalui penelusuran literatur, berita daring, dan karya-karya tafsir Nusantara seperti Tafsir Al-Mishbah, Tafsir Al-Azhar, dan Marah Labid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dehumanisasi di ruang intelektual dipicu oleh budaya kompetitif, anonimitas digital, dan lemahnya internalisasi etika sosial, sehingga melahirkan individu yang unggul secara kognitif tetapi miskin empati. Melalui pembacaan terhadap tafsir Nusantara, ditemukan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an yang berakar pada tradisi budaya lokal menawarkan model rekonstruksi kepedulian dan empati sebagai basis relasi sosial. Kajian ini memberikan manfaat teoretis dan praktis berupa penguatan paradigma pendidikan yang memadukan kecerdasan intelektual dan spiritualitas kemanusiaan, serta rekomendasi revitalisasi nilai empati dalam kurikulum dan kultur akademik. Dengan demikian, tafsir Nusantara dapat menjadi epistemologi penyembuh luka humanisme di tengah tantangan dehumanisasi digital masa kini.